Jumat, 30 September 2011

"Sekolah Arab" Kauman Batang

Istilah "Sekolah Arab" dulu akrab digunakan untuk menyebut sebuah sekolah keagamaan di belakang Masjid Agung yang bernama 'Madrasah Diniyah Darul Ulum'. Madrasah ini menjadi andalan para orang tua di kota Batang yang ingin memberi tambahan pelajaran agama Islam bagi anaknya yang paginya bersekolah di sekolah negeri. Saat itu belum banyak ditemui TPQ seperti sekarang.

Jam belajarnya berlangsung pukul 14.00 hingga pukul 17.00 dengan waktu istirahat sholat ashar. Anak-anak yang belajar di madrasah ini harus segera siap-siap berangkat setelah mereka pulang dari sekolah SD atau SMP dengan alokasi waktu makan siang yang tidak terlalu banyak. Madrasah ini masuk 6 hari seminggu dan libur pada hari Jumat.

Murid-murid yang bersekolah di sini tidak hanya berasal dari Kauman namun juga dari kelurahan lain dengan tingkat komitmen kehadiran yang berbeda-beda. Tidak banyak yang sanggup menyelesaikan sekolah ini hingga empat kelas atau hadir tiap hari. Saya sendiri berhasil memperoleh ijazahnya.

Pakaian yang dipakai siswa laki-laki adalah baju bebas dengan celana pendek berpeci. Mereka juga selalu siap membawa sarung untuk shalat ashar di masjid. Sementara siswa perempuan memakai rok biasa namun berkerudung.

Sekolah ini bagian dari sebuah yayasan sekolah yang juga memiliki madrasah ibtidaiyah di pagi hari dan diasuh oleh keluarga besar Alm. KH Ahmad Fudhel yang tinggal di gang 3 Kauman dengan kepala sekolahnya waktu itu Bp. Masruri.

Pelajaran yang diajarkan adalah akhlaq, imla (dikte), tahaji (menulis huruf hijaiyah), tarikh (sejarah Islam), bahasa Arab, nahwu sharaf, tahsinul khat (menulis indah), tajwid, hadits dsb. Sekolah dibagi menjadi empat kelas dan diasuh oleh seorang guru kelas.

Tiap peringatan Maulud Nabi dan Isra'Mi'raj madrasah ini menyelenggarakan acara 'Muludan' dan 'Rajaban' dimana para murid diminta membawa satu jenis makanan dari rumah kemudian dikumpulkan, dikombinasikan kemudian dibagi kembali sehingga pada saat pulang murid membawa satu plastik makanan yang isinya beragam.

Saya kurang tahu persis apakah sekolah ini masih aktif seperti dulu mengingat kini banyak bermunculan TPQ. Yang jelas ilmu yang diajarkan sangat bermanfaat. Saya sendiri merasa pelajaran yang saya peroleh di situ banyak membantu saya memahami agama dan juga mempermudah saya ketika 20 tahun kemudian saya bertugas di sebuah negara di Jazirah Arab.

Sent from my BlackBerry® smartphone

Pohon Beringin Alun-alun Batang


Siapa orang Batang yang tak kenal pohon beringin yang letaknya persis di tengah-tengah alun-alun kota? Pohon ini bagaikan ikon yang menjadi bagian tak terpisahkan dari pemandangan pusat kota Batang.

Ayah saya yang lahir tahun 1933 pernah bilang bahwa ketika beliau kecil pohon itu bentuknya sudah sebesar itu, jadi tentunya umurnya sudah sangat tua.

Ketika saya kecil pohon itu belum dipagari seperti sekarang. Saya masih dapat memanjat dengan mudahnya dan bergelantungan di tali-tali dahannya seperti Tarzan.

Seingat saya di situ waktu itu di sekitar pohon banyak ditemui rambut sisa cukuran yang dibuang oleh beberapa orang tukang cukur yang mangkal di 'DPR' alias Di-bawah Pohon Ringin.

Di beberapa bagian pohon tercium aroma pesing, hasil dari perbuatan orang-orang yang malas buang air seni di kamar kecil, mungkin karena jauh.

Sayang pohon tua semacam ini kelihatannya tinggal satu-satunya di kota Batang. Entah mengapa tampaknya banyak orang yang tidak suka melihat pohon besar ada di sekitar mereka dan cenderung ingin menebangnya. Padahal pohon adalah penyedia oksigen yang tiap hari kita hirup. Semakin banyak dan semakin besar pohon, semakin segar dan sehat udara yang kita hirup, dan semakin sejuk suhu di lingkungan kita.

Sent from my BlackBerry® smartphone

Rabu, 28 September 2011

Kisah Lik Awi

Mungkin tidak banyak orang yang mengenal Lik Awi. Beliau adalah penjual 'bubur kacang ijo' dan 'bubur cadhil' yang sering menjajakan dagangannya di gang-gang sekitar Kauman dengan gerobak dorongnya sekitar tahun 1980-an. Untuk menandakan kehadirannya beliau memukul mangkuk dengan sendok sehingga bunyi 'ting ting ting ting...'.

Lik Awi, dengan postur tubuhnya yang kecil, bertopi laken, dan kulit gelap karena matahari, setiap hari harus mendorong gerobaknya dari Kalipucang tempat ybs tinggal melewati jalan besar di area Kebonrojo menuju wilayah Kauman setelah itu kembali lagi ke Kalipucang. Rute yang ia tempuh mungkin sekitar 6 km tiap hari.

Lumayan berat, belum lagi jika mengingat kapan beliau harus belanja bahan, masak, beli kayu bahan bakar dsb. Pernah secara iseng saya bertanya sejak kapan ybs berjualan kacang hijau, jawabnya sejak tahun 1952 (lebih dari 30 tahun saat itu). Terakhir saya lihat beliau sekitar tahun 1993 dan sekarang tampaknya sudah berhenti jualan. Apakah beliau masih 'sugeng'?

Lik Awi adalah cerminan betapa kerasnya perjuangan hidup yang harus dijalani oleh beberapa warga masyarakat Batang yang secara sosial kurang beruntung. Mungkin banyak juga waktu itu warga masyarakat Batang lain yang harus bekerja sekeras beliau untuk hidup. Semoga kabupaten kita ini semakin maju dan orang-orang seperti beliau lebih sejahtera.

Sent from my BlackBerry® smartphone

"Kol mBatang-Ngkalongan"



Sebagai kota yang begitu dekat dengan Pekalongan (±10km) masyarakat Batang cukup intensif berkunjung ke kota Batik ini baik dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.

Kendaraan umum yang lazim digunakan untuk berkunjung ke Pekalongan adalah semacam angkot berwarna oranye yang disebut 'kol mbatang-ngkalongan'.

Kendaraan ini berbentuk minibus Suzuki Carry atau Daihatsu Zebra. Pada tahun 1991-1993 (saat saya SMA) tarifnya kalau tidak salah Rp 300,- untuk umum dan Rp.150,- untuk pelajar. Jauh dekatnya jarak mempengaruhi besarnya tarif umum. Sekarang mungkin sekitar Rp.6000-an.

Rute kendaraan ini adalah Pasar Batang-Dracik-Watesalit-Jl.Jend. Sudirman (Pantura)-Posis-Poncol-'stanplat' Surogenen. Sebelumnya pernah juga melewati Jl. A.Yani (Sawahan) dan Jl.Wahid Hasyim (perempatan Tampangsono) sebelum rutenya diganti ke Watesalit-Kalisari. Rute baliknya melewati Alun-alun Batang dan jalur stasiun menuju belakang pasar.


Konon sejak kredit motor begitu mudahnya kendaraan ini jadi kurang diminati, penghasilannya merosot dan jumlahnya pun berkurang. Dahulu supir selalu dibantu 'kenek' alias kernet, namun sekarang tidak.

Pendahulu 'kol mbatang-ngkalongan' adalah kendaraan 'kol trunthung' yang digunakan sekitar tahun 1970-an. Disebut demikian karena mobil bermesin dua tak tersebut berbunyi "trung,thung,thung,thung". Kendaraan ini lebih kecil bila dibandingkan minibus sekarang dan pintu penumpang terletak di belakang. Bila mobil penuh beberapa penumpang terpaksa harus bergelantungan di pintu tersebut bersama kernet.

Almarhum ibu saya pernah bercerita bahwa sebelum ada 'kol', kendaraan yang dipakai masyarakat Batang untuk menuju Pekalongan adalah 'dokar' alias delman dan sepeda.


Selasa, 27 September 2011

Kecamatan Tersono, Batang

Kecamatan Tersono letaknya lumayan jauh dari pusat kota. Untuk menuju ke sana dari arah kota Batang kita harus melewati jalur jalan Pantura, belok kanan di Banyuputih dan belok kiri di Limpung. Pusat keramaian kecamatan ini berada di sekitar pasar. Ketika zaman saya kecil (awal 1980-an) banyak jalan yang masih berupa tanah berbatu, dan kadang-kadang masih harus menyeberang sungai. Kini kualitas jalan di daerah itu sudah bagus dan memiliki lebih banyak jembatan.

Sent from my BlackBerry® smartphone


Kunjungi Foto-foto Tersono di Pinterest.




Kampung Nelayan Batang

Foto-foto di atas kuambil di sekitar kampung nelayan di Batang. Tampak gapura gang yang bernuansa laut, perahu-perahu yang tengah parkir, tempat pembuatan kapal dan area penjemuran 'gereh' alias ikan asin.

Sent from my BlackBerry® smartphone

Sejarah Kabupaten Batang: Referensi



Tidak mudah mencari referensi akurat mengenai sejarah tentang Kabupaten Batang, di samping mungkin ketertarikan sejarahwan lebih banyak ke kota-kota yang lebih besar , mungkin juga sumber-sember konfirmasi faktanya sulit dicari.

Satu-satunya referensi resmi yang dapat saya temukan adalah sebuah buku yang disusun oleh Basuki Sunarjo yang diterbitkan oleh Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Batang pada tanggal 9 April 1991 yang diberi kata pengantar oleh Bupati Soehoed.

Buku yang saya peroleh dalam bentuk fotokopian ini kelihatannya disetting menggunakan mesin ketik listrik yang memang lazim digunakan tahun-tahun itu karena word processor belum sepopuler sekarang. Semoga suatu saat nanti saya dapat menemukan versi aslinya.

Unduh File-nya di sini: Sejarah Perjuangan Pembentukan Kab Batang PDF

Buku ini mengulas sejarah Batang sejak zaman para adipati hingga zaman perjuangan termasuk tahun-tahunnya dan SK-SK pembentukannya. Mungkin di lain kesempatan isi buku ini bisa saya ulas lebih mendalam.

Apakah ada informasi referensi sejarah lain yang lengkap?

Beberapa versi paparan sejarah kabupaten Batang di akun Facebook dan blog lain




Senin, 26 September 2011

Foto Kecamatan Reban





Foto yang saya unggah di atas memang tak sebagus foto teman saya yang saya unggah sebelumnya. Yang di bagian ini murni saya yang memotret dengan sebuah kamera digital sederhana.

Sebagaimana diketahui Kecamatan Reban adalah daerah pegunungan yang wilayahnya meliputi juga kawasan perkebunan teh Pagilaran.

Lihat juga FOTO CANTIK PAGILARAN

Artikel tentang Wisata Kebun The Pagilaran di Kompas http://batang.blogspot.com/2013/12/keasrian-pegunungan-teh-pagilaran-di.html

Sent from my BlackBerry® smartphone




Kunjungi Foto-foto Reban/Pagilaran di Pinterest.




Foto Cantik Pagilaran

Foto panorama di atas saya copy dari blog teman SMA saya, Eko Ariefianto, yang dengan cantiknya mampu memotret keindahan alam daerah Pagilaran, Kec. Reban. Saya muat di blog ini karena menurut saya sayang jika sampai tidak dilihat oleh orang-orang Batang lain. Fotonya bagus sekali, mengingatkanku pada gambaran Quran tentang surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Semoga beliau tidak meminta royalti untuk pemuatan ini;)

Sent from my BlackBerry® smartphone

Batang Tempo Doeloe Djilid 7: Pawai dan Lomba

Masyarakat di mana pun berada pada dasarnya haus akan hiburan dan mendambakan ada keramaian sesekali. Demikian pula masyarakat Batang.

Setahuku di Batang tidak banyak keramaian yang sifatnya massal selain acara Jumat Kliwonan di Alun-alun. Di bawah ini adalah catatan saya mengenai beberapa acara massal yang dulu sering digelar masyarakat (mungkin sekarang masih).

Pawai 17-an
Yaitu pawai yang diselenggarakan pada tanggal 18 Agustus siang yang diikuti oleh kampung-kampung dan sekolah-sekolah. Pawai terdiri dari grup drum band, peserta dengan kostum-kostum menarik dan kendaraan yang dihias dengan bentuk tertentu. Rute pawai dari Alun-alun, Kauman, Dracik dan Proyonanggan.

Pawai Obor Pramuka
Yaitu pawai yang dilaksanakan malam hari tiap tanggal 14 Agustus (Hari Pramuka) oleh siswa-siswa berseragam pramuka dengan membawa obor ('oncor') dari bahan bambu, sumbu kain dan minyak tanah. Rombongan bergerak dari Alun-alun menuju Taman Makam Pahlawan di Kadilangu. Kadang-kadang peserta pawai memberikan obornya di jalan kepada anak-anak.

Pawai Silaturahmi Idul Fitri
Pawai oleh masyarakat nelayan dan warga kampung-kampung di sekitar pantai yang bersilaturahmi kepada Bupati Batang pada Hari Raya Idul Fitri dengan mengenakan kostum-kostum menarik. Pawai ini seingat saya sudah jarang diselenggarakan.

Lomba Dayung
Lomba ini merupakan tradisi syawalan masyarakat nelayan Batang. Diselenggarakan di area dekat pantai Desa Klidang Lor.

Takbiran Keliling
Dilaksanakan tiap malam 1 Syawal oleh beberapa warga dengan mengendarai truk bak terbuka dan menggunakan pengeras suara serta kadang-kadang membawa beduk.

Mengingat saya sudah sangat jarang berkunjung ke Batang, saya kurang tahu persis kegiatan-kegiatan massal yang akhir-akhir ini dilaksanakan. Sekitar 4 tahun lalu saya pernah menyaksikan lomba balap sepeda yang kelihatannya cukup menarik minat warga Batang untuk keluar rumah menonton.

Sent from my BlackBerry® smartphone

Boso mBatang: Fakta-fakta Menarik

Beberapa kosa kata Jawa non-standar yang dipakai di daerah Batang dan sekitarnya ternyata memiliki kemiripan dengan daerah-daerah lain di Jawa.

Contoh:

1. Kata "antèr" yang berarti "alon" (lambat) ternyata dikenal di Jogja tapi tidak dipakai di Solo.

2. Kata "ngligo" yang berarti "telanjang dada" dikenal di Solo tetapi tidak dipakai di Jogja. Demikian pula kata "pego" yang berarti "asap" ternyata dipahami di Solo tetapi tidak dipakai di Jogja. Orang Jogja menggunakan kata "kebul".

3. Kata "kadi" yang berarti "dari" ternyata dipakai di daerah Bantul dan Gunung Kidul, sedangkan orang Jogja dan Solo menggunakan kata "saka/seka".

4. Kata "atis" yang berarti "dingin" dikenal di daerah pesisiran sampai termasuk Kudus, Jepara dan Pati. Orang Jogja-Solo menggunakan kata "adem" yang kalau di Batang berarti sejuk tetapi tidak dingin.

5. Kata "nyelang" yang berarti "meminjam" dikenal juga di daerah Jawa Timur (Malang dan sekitarnya). Sementara di Jogja dan Solo orang menggunakan kata "nyilih/njilih".

6. Kata "pitik" di Batang berarti ayam kecil, sedangkan di Jogja-Solo berarti ayam dewasa.

7. Kata "dhong..." yang berarti "pada saat..." dikenal juga di daerah Semarang dan sekitarnya.

8. Kata "po'o" dipakai di sekitar Surabaya, tetapi memiliki sedikit perbedaan arti. Contoh penggunaan di Surabaya "Ning kono wae po'o?" (Di situ aja kenapa sih).

9. Kata "klalen" yang berarti "lupa" dikenal juga di daerah penutur bahasa Jawa dialek Tegal.



Minggu, 25 September 2011

Boso mBatang


Seri "Boso Mbatang" bertujuan untuk mengkompilasi kekayaan kosakata masyarakat Batang dan sekitarnya. Identitas kultural pesisiran yang menjadi karakteristik masyarakat Batang memang cukup berbeda dari arus utama budaya Jawa pedalaman.

Karena tingginya interaksi dengan wilayah lain di Jawa Tengah saat ini banyak kata-kata tersebut mulai hilang dan generasi muda memiliki kecenderungan untuk berbicara dengan kosakata standar Jogja-Solo terutama yang pernah kuliah di kedua kota itu.

Yang patut disayangkan adalah munculnya anggapan atau perasaan bahwa kosakata dan dialek daerah ini seolah-olah inferior bila dibandingkan dengan bahasa Jawa baku. Anggapan ini tentu saja keliru. Keunikan linguistik ini justru merupakan sebuah kekayaan budaya yang menunjukkan bahwa selama ini masyarakat Batang dan sekitarnya cukup inovatif dalam berbahasa dan tidak terikat oleh bahasa Jawa arus utama.

Kosakata-kosakata lainnya saat ini terus diekplorasi dan akan segera ditampilkan bila kebetulan teringat. Format pemuatan berupa kata yang disertai dengan arti dan contoh pemakaian dalam kalimat.

Bahasa Jawa di Batang sebenarnya merupakan bagian dari ragam bahasa Jawa dialek Pekalongan, keterangannya bisa dilihat di Wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jawa_Pekalongan
Sebagai penutur asli saya cukup khawatir bahwa dialek ini akan lenyap ditelan oleh bahasa Jawa standar Solo-Jogja atau bahasa Indonesia.
posted from Jakarta

Sabtu, 24 September 2011

Sungai di kota Batang





Foto-foto tahun 2005

Kota Batang dialiri oleh sebuah sungai cukup besar yang oleh masyarakat setempat disebut dengan Kali Sambong dan di bagian hulu di selatan disebut Kali Kramat. Sungai ini memiliki bendungan di daerah Kramat yang bernama Bendungan Kedungdowo.

Menurut sumber-sumber literatur Belanda pertengahan tahun 1800-an sungai Sambong lebih dikenal dengan sungai Batang yang bersumber dari Kali Lojahan di Gunung Butak.








Dulu di batas barat juga terdapat sebuah sungai besar bernama Kali Banger namun kini menjadi wilayah Pekalongan.

Mari kita lestarikan sungai-sungai kita, jangan sampai tercemar. Lihat entri mengenai Sungai-sungai Kecil di Batang

Sent from my BlackBerry® smartphone!

Batang Tempo Doeloe Djilid 6: Toko-toko


Di zaman belum ada toko-toko besar dan mini market seperti sekarang ini pasar tradisional Batang dan toko-toko di sepanjang "nggili gedhe' alias Jl. Jend.Sudirman menjadi penyedia utama barang-barang kebutuhan masyarakat Batang.
Beberapa toko yang masih saya ingat antara lain:

Toko Yok Pojok, terletak di ujung Jl. Yos Sudarso, menjual kain bahan baju dan beberapa barang lain yang tidak terlalu spesifik jenisnya

Toko di samping Toko Yok Pojok yang oleh kakak saya sering disebut sebagai "To'it", menjual makanan seperi roti, jajanan dan biskuit. Konon setelah itu pindah ke ruko. Dulu keluarga saya sering beli roti di situ.

Toko Wijaya yang berlokasi di seberang kantor polisi dekat lampu merah, menjual alat tulis dan beberapa barang kelontong. Di situlah saya dulu sering beli pulpen merek 'Pilot' dan 'Top'.

Toko Besi Santoso, berada di seberang kantor Pegadaian, menjual besi dan bahan bangunan. Tempat saya beli paku dan cat untuk prakarya SD.

Toko kaset sebelah barat Jembatan Gendhingan sisi utara jalan, saya lupa namanya. Tempat beli kaset pop jaman 80-an.

Batang Indah Photo, terletak di sebelah timur Jembatan Gendhingan sisi selatan, melayani foto, afdruk, cuci cetak film, jual album foto dan sejenisnya.

Toko Buku Granada, berlokasi di sebelah timur Jembatan Gendhingan sisi utara, menjual buku-buku pelajaran sekolah dan buku-buku lainnya.

Apotik Shinta berada di perempatan RE Martadinata pojok selatan barat. Seingat saya apotik ini waktu itu pernah jadi satu-satunya apotik di Batang.

Toko Terang, berlokasi di sebelah timur perempatan RE Martadinata, menjual mainan anak-anak dan barang-barang lain. Banyak mainan saya dibeli di toko situ: puzzle, monopoli, catur, gambar kwartet dsb.


Toko Terang by Google Street View April 2013

Toko Obat Sehat, penjual obat berijin, terletak di samping Toko Terang. Dulu saya sering beli obat batuk 'Vicks Formula 44' dan obat sakit kepala 'Mixagrip'

Toko Obat Singapore, terletak di sisi selatan jalan pas lengkungan jalan sebelum pasar.

Toko Buku Anda, dulu berlokasi di perempatan pasar, pojok selatan timur, namun kemudian pindah ke depan Markas Kodim. Toko buku ini pernah menjadi langganan saya. Penjualnya Bapak-bapak yang tampaknya masih keturunan Arab.

Toko Sepatu Surototo, menjual sepatu dan sandal, berlokasi di sisi utara jalan dekat perempatan Pasar Batang. Sekitar tahun 2008 saya sempat membeli sepatu di toko ini karena sepatu saya hilang di Jakarta.


Toko Sepatu Surototo by Google Street View April 2013

Sebenarnya masih banyak toko-toko lain yang saya masih ingat tapi belum sempat saya urai satu-satu seperti Toko Saerah, Toko Memori, Toko Candra, Toko Mas Pantes dan Apotek Enggal Waras. Beberapa toko-toko yang saya sebut di atas hingga kini masih ada.

Tambahan:

Ada satu toko tidak bernama yang menjadi langganan orang tua saya yang letaknya di perempatan Jl. Gajahmada - Jl. RE Martadinata, penjualnya seorang wanita Tionghoa bernama Cik Gien, lokasinya sepertinya sudah menjadi toko motor sebagaimana foto di bawah ini.


Google Street View Juni 2015


Saya juga ingat ada toko meubel yang sudah cukup tua saat itu bernama Toko Meubel Nusantara. Hingga saya foto tahun 2012  toko milik warga Batang keturunan Arab bernama Pak Barak ini masih beroperasi. Kursi tamu di rumah keluarga kami dibeli di toko meubel ini.

Tambahan 28 Jul 2016

Screen Capture Google Street View April 2013










Screen Capture Google Street View tahun 2015








Jumat, 23 September 2011

Batang Tempo Doeloe Djilid 5: Bangunan & Gedung


Gedung Bioskop Srikandi
Gedung bioskop ini dahulu berdiri di samping kantor pos, sisi timur alun-alun. Di zamannya gedung ini merupakan pusat hiburan masyarakat dan mungkin banyak yang punya kenangan manis di situ terutama generasi 70-80-an. Sekarang gedung ini sudah rata dengan tanah dan hingga saat ini belum dibangun baru. Info lain tentang Bioskop Srikandi

Stasiun Kereta Api
Stasiun Batang meruapakan salah satu gedung tua yang masih bisa ditemukan di Batang. Bentuk arsitekturnya hingga kini masih bertahan. Sekitar awal tahun 1980-an lotengnya banyak didiami kelelawar. Saking banyaknya kelelawar tersebut, setiap senja penduduk dapat menyaksikan rombongan binatang ini terbang di udara yang tampak seperti titik-titik hitam kecil.

Kantor Lama Kecamatan
Kantor kecamatan Batang dahulu terletak di sebelah utara alun-alun yang sekarang merupakan kompleks rumah toko (ruko). Kantor tersebut kemudian dipindahkan ke daerah Watesalit dekat RS Kalisari. Ruko ini kini telah menjadi salah satu sentra ekonomi di pusat kota.

Gardu Listrik 110V
Di daerah Batang dulu terdapat beberapa gardu listrik yang antara lain terdapat di sudut alun-alun dekat kantor telpon, ujung jalan RE Martadinata dan di Jalan A Yani dekitar Sawahan,Kauman. Di gardu tersebut masih terdapat tulisan peringatan bahaya dalam bahasa Belanda dan tulisan beraksara Jawa (Honocoroko) yang berbunyi "Sing ngemek mati". Sementara itu listrik di daerah Batang sampai awal tahun 1980-an masih memiliki voltase 110 V. (lihat ilustrasi, sumber gambar)

Gedung Ketoprak
Lamat-lamat saya ingat di area sekitar belakang pasar Batang ada sebuah bangunan yang berdiri di sebuah lapangan namun kini sudah tidak ada lagi. Bangunan itu cukup besar namun dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Seingat saya pernah ada yang bilang gedung itu adalah tempat pertunjukan ketoprak. Group ketoprak manakah yang dulu manggung di situ dan siapa saja pemainnya masih menjadi misteri bagi saya, mungkin generasi 1960-70-an masih ada yang ingat. Yang jelas pertunjungan 'live' ketoprak lama-lama hilang ditelan oleh popularitas bioskop waktu itu.

Sent from my BlackBerry® smartphone

Batang Tempo Doeloe Djilid 4: Wilayah Lama


Batas Barat Kota
Perbatasan Batang dan Kota Pekalongan dulu terletak di Kali Banger dekat markas Brimob. Pada saat itu daerah seperti Baros dan pertigaan PPIP tempat dibangunnya Terminal baru masih menjadi wilayah Batang.

Dengan adanya pemekaran kota Pekalongan, wilayah tersebut kemudian diserahkan kepada Kota Madya Pekalongan dan batas wilayah saat ini berada antara Desa Denasri Kulon dan Terminal Pekalongan baru. Kita bisa menemukan gapuranya setelah melewati terminal baru dari arah Pekalongan. Lihat Peraturan Pemerintah RI No.21 tahun 1988

Pemekaran Kabupaten
Orang Batang yang sudah lama merantau mungkin tidak menyadari bahwa kabupaten tercinta ini sudah mengalami pemekaran menjadi 15 kecamatan (sebelumnya 12 kecamatan). Tiga kecamatan baru hasil pemekaran adalah: Kecamatan Kandeman (dekat Tulis), Kecamatan Banyuputih (dekat Subah dan Limpung) dan Pecalungan (dekat Bandar). Tampak pada gambar peta pembagian wilayah kabupaten versi lama dengan 12 kecamatan.

Wilayah Zaman Hindia Belanda
Dari hasil saya meneliti halaman-halaman arsip situs indonesianhistrory.info , saya menemukan bahwa pada tahun 1931 Regentschap (Kabupaten) Batang dibagi menjadi 4 wilayah administratif (Kawedanan) yaitu: Batang, Bandar, Soebah dan Bawang. Sementara jauh sebelumnya pada tahun 1854 (abad ke-19) Regentschap Batang dibagi menjadi: Batang, Huurland Klidang, Soeba, Huurland Simbang, Sidayo, Kaliesalak dan Keboemen.



Berdasarkan  informasi entri kata "Batang" di Buku Aardrijkskundig En Statistich - Woordenboek van Nederlandsch-Indië 1861, terbitan P.N. Van Kampen, Amsterdam.

- Batang dikenal  sebagai sebuah "regentschap" (kabupaten), "distrikt" (semacam kecamatan?) maupun "stadje" (kota kecil) di Karesidenan Pekalongan.

- Penduduk "distrikt" Batang menurut sumber ini berjumlah 21.630 jiwa. Bandingkan dengan data BPS yang menunjukkan bahwa penduduk Kabupaten Batang tahun 2014 berjumlah 722.026 jiwa, yang berarti 33 kali lipatnya setelah kira-kira satu setengah abad!

- Batang juga dirujuk sebagai sungai yang hulunya berada di Kali Lojahan, Gunung Butak dan mengalir melalui 'distrik' Sidayu (Bandar) hingga desa Sambong.

- Batang juga tercatat memiliki pabrik gula (suikerfabrijk) di Jawa. 


Tahun 1861 mungkin jamannya mbah buyut saya (dengan perhitungan bahwa almarhum bapak saya lahir tahun 1933, karena beliau anak terakhir saya asumsikan mbah saya mungkin lahir sekitar tahun 1890-an). 

Wilayah Zaman Mataram dan VOC

Jauh ke belakang di abad ke-18, wilayah Batang bersama wilayah pesisir lainnya telah diserahkan kepada VOC (Kumpeni) oleh Raja Mataram Sri Sunan Pakubuwono II melalui kontrak tanggal 18 Mei 1746 dalam rangka memenuhi janjinya kepada VOC jika membantunya mengatasi pemberontakan di wilayah Mataram. Pada Perjanjian Giyanti 1755 antara VOC dengan Mataram (Sunan Pakubowono III) dan Pangeran Mangkubumi (kemudian menjadi Sultan Hamengkubuwono I), seluruh wilayah pesisir utara termasuk kawasan Batang dinyatakan tetap dalam kekuasaan VOC.


Tambahan 28/07/2016
Sulit menelusuri sumber sejarah administrasi pemerintahan ke belakang lagi, paling jauh tampaknya adalah sekitar tahun 1600-an (Abad ke-17) di era Raja Mataram Sultan Agung Hanyokrokusumo, Tumenggung Bahurekso dan VOC. Era sebelum itu (tahun 1500-an atau abad ke-16) sebagian tanah Jawa pada awal abad berada di bawah kekuasaan Kesultanan Demak, kemudian di pertengahan di bawah Kesultanan Pajang lalu kemudian di akhir abad beralih ke Kesultanan Mataram (Sultan I/Panembahan Senopati). 

Jadi sebenarnya Kabupaten Batang tidak lahir kemarin sore (tahun 1966, saat berpisah dari Pekalongan seharusnya tidak menjadi patokan kelahiran) Mbah-mbah kita sudah membangun sejarah di kampung kita selama ratusan tahun. Kalau kita bandingkan, Jakarta saja berani klaim umurnya sejak era Jayakarta (1619).






Sent from my BlackBerry® smartphone

Kabupaten Batang: Nama dan Lokasi

Batang, kabupaten tempat kelahiranku ini jarang dikenal orang, tahunya Alas Roban saja. Entah mengapa nama Alas Roban begitu populer, mungkin karena ada kisah heroik zaman VOC dulu ketika Sultan Agung Mataram menyerang Batavia dengan tokoh Tumenggung Bahurekso yang sangat disegani di daerah Kendal, Batang terus ke barat hingga sekitar Tegal.

Batang sebagai sebuah kota kecil yang letaknya terlalu dekat dengan kota yang lebih besar, yaitu Pekalongan, menjadi kurang familiar di telinga orang yang tidak pernah mengunjungi atau melewatinya. Bagi para pemudik Batang cukup dikenal karena merupakan tempat persinggahan dan mereka sering menyebut beberapa rumah makan langganan mereka.

Kata 'Batang' juga sangat umum karena dikenal juga di kosakata bahasa Indonesia meski dengan maksud berbeda. Hal ini menyulitkan pencarian karena berarti nama ini tidak bisa efektif digunakan sebagai kata kunci mesin pencari di internet. Kata kunci yang efektif untuk mencari informasi tentang kabupaten ini di internet adalah 'kabupaten batang' atau 'kab batang'.

Dari hasil pencarian saya beberapa tahun lalu, ditemukan beberapa titik di planet ini yang dinamai Batang, 15 di Filipina, 4 di daratan Cina, 2 di Vietnam (Ba-Tang), dan 2 di Indonesia (di Jawa dan di Sulawesi). Belum lagi nama-nama daerah yang mengandung kata Batang seperti Batang Ai atau Batanghari.

Batang kabupaten kita terletak di koordinat 6°51'46"- 7°11'47" garis Lintang Selatan dan 109°40'19"-110°03'06" garis Bujur Timur. Foto udaranya bisa dilihat secara jelas di Google Earth/Map.

Sent from my BlackBerry® smartphone

Kamis, 22 September 2011

Karya Batik Klasik Batang

Batik dari Batang tahun 1910-an, salah satu koleksi Los Angeles County Museum of Art (LACMA),
 
 
 
 
 
Dokumentasinya termuat juga di buku "FABRIC OF ENCHANTMENT. Batik from the North Coast of Java, from the Inger McCabe Elliott Collection at the Los Angeles County Museum of Art, 1997"
 
 
 
 
Karya tersebut juga termuat, di blog lain:
 
 

Andaikan saya bisa menemukan karya-karya lain....atau jangan-jangan ada kolektornya di luar sana?

Rabu, 21 September 2011

Alun-alun Batang (Foto 2005)

Sebagaimana lazimnya kota-kota di Jawa, alun-alun menjadi pusat kota. Di tengahnya biasanya terdapat pohon beringin besar, di sebelah barat terdapat masjid dan di sebelah selatan adalah lokasi kantor pemerintah.


Sent from my BlackBerry® smartphone

Kata Kunci

alas roban (5) alun-alun (6) bahasa (3) bahurekso (1) bandar (2) batang (161) batang.org (6) batik (5) bawang (1) bioskop (1) blado (2) blog (2) buka puasa (1) bupati (2) central java (1) darul ulum (1) dayung (1) dialek (3) dracik (1) facebook (4) festival (1) forum (2) foto (8) hotel (1) info (1) jalan (1) java (1) jawa (3) kabupaten (101) kadilangu (1) kalisalak (1) kampung (1) kampus (1) kantor (2) kauman (1) kecamatan (5) kedungdowo (1) kegiatan (1) kehidupan (1) kenangan (2) kereta api (3) khas (2) kliwonan (7) komunitas (2) kota (18) kramat (2) ktp (1) kuliner (9) lingkungan (2) lokasi (1) lomba (2) lumba-lumba (3) madrasah (1) maghribi (1) makam (2) makanan (3) map (2) masjid (1) mbangun (2) mbatang (1) megono (3) melati (1) metal (2) mustika (1) nelayan (3) pagilaran (3) pahlawan (1) pantai (10) pantura (4) pasar (2) pawai (2) pekalongan (7) pemandian (1) perkebunan (1) pesanggrahan (1) peta (2) petilasan (1) radio (2) ramadhan (2) rel (1) resmi (1) rspd (2) rumah (1) sambong (2) search (1) sego (2) sejarah (5) sekolah arab (1) semarang (2) sendang sari (1) senggol (1) sigandu (5) situs (4) srikandi (1) sungai (2) taman (1) teh (1) terminal pekalongan (1) tersono (1) thr (1) tol (2) tulis (2) twitter (3) ujungnegoro (6) website (4) wikipedia (1) wilayah (2) wisata (10) wonobodro (1) wonotunggal (2)