Senin, 31 Oktober 2011

Komunitas Peduli Lingkungan Batang di Facebook

Pesatnya perkembangan kota Batang membuat isu-isu lingkungan menjadi relevan. Pembangunan jika tidak disertai dengan wawasan lingkungan akan mengancam kesinambungan dari hasil-hasil yang dicapai.

Jika Anda pengguna Facebook dan tertarik dengan isu-isu lingkungan di Batang, maka Anda mungkin bisa bergabung di Group ini "Go Green Batang" (log in dahulu) yang dikelola oleh Ipung Djadjoeri.

Posted from Jakarta
Mon, Oct 31, 2011

Minggu, 30 Oktober 2011

Sejarah: Jejak Syeh Maulana Maghribi di Batang


Makam di Ujungnegoro


Makam di Wonobodro

Sepanjang pengetahuan saya ada dua tempat di Kabupaten Batang yang dianggap masyarakat setempat sebagai 'makam' Syeh Maulana Maghribi yaitu di Ujungnegoro, Kec. Kandeman dan Wonobodro, Kec. Blado.

Saya tidak tahu mengapa ada dua makam di situ karena menurut catatan sejarah yang baku, ulama yang meninggal tahun 1419 ini dimakamkan di desa Gapurosukolilo, Kab.Gresik, Jawa Timur.

Saya sendiri pernah ke tiga tempat itu dan jadi bingung mana versi yang benar, mungkin perlu ada verifikasi ahli sejarah sehingga masyarakat tidak salah persepsi.

(Tambahan 8 Agustus 2016: Lihat kajian ilmiah situs ini oleh Muchamad Fauzan, mahasiswa STAIN Pekalongan "SELUBUNG HISTORIOGRAFI, SYEKH MAULANA MAGHRIBI, WONOBODRO")

Adanya kedua jejak itu berarti menunjukkan bahwa agama Islam sudah hadir dalam kehidupan masyarakat Batang lebih dari 500 tahun lalu.

Posted from Bogor
Sun, Oct 30, 2011

Revised
4 Sep 2015


 

Batang Pesisir Bagian 3: Pantai Ujungnegoro

Pantai Ujungnegoro adalah sebuah pantai wisata yang berlokasi di Kecamatan Tulis. Dapat ditempuh dari Jalan Pantura melalui sebuah jalan kecil ke arah utara. Pantai ini cukup unik karena di sini terdapat bukit yang langsung bertemu garis pantai secara curam namun di sekitarnya terdapat area yang landai.

Pantai ini sudah lama dikenal orang karena keunikannya dan juga karena di arena ini terdapat sebuah area makam peninggalan dari seorang tokoh ulama zaman dahulu, Syekh Maulana Maghribi (kemungkinan sebuah petilasan, mengingat makam ulama ini setahu saya ada di Gresik, Jawa Timur. Petilasan Syekh Maulana Maghribi juga dapat ditemui di Desa Wonobodro, Kec. Blado Kabupaten Batang).

Keunikan pantai ini sering diulas di artikel-artikel wisata Jawa Tengah dan merupakan tujuan wisata yang wajib dikunjungi jika kebetulan Anda berniat berwisata di daerah Batang. Pada tahun 2005 saya menyempatkan diri untuk mengunjungi pantai ini dan mengambil beberapa foto.

Posted from Bogor
Sun, Oct 30, 2011

LIHAT FOTO APRIL 2012

Sebuah artikel menarik di Detik Travel mengenai Ujungnegoro http://batang.blogspot.com/2011/09/artikel-tentang-wisata-di-pantai.html

Koordinat lokasi

Batang Pesisir Bagian 2: Pantai Sigandu


Pantai Sigandu adalah kawasan hutan bakau (mangrove) yang secara khusus dibuka dan dikelola oleh Pemkab Batang sebagai pantai wisata. Pada waktu saya kecil pantai ini kurang dikenal namun kini sangat terkenal karena sudah terdapat banyak fasilitas yang memang dikhususkan untuk wisata.

Pantai ini dapat dicapai melalui jalur jalan di Sambong atau jalur pemukiman nelayan Klidang. Terakhir saya berkunjung ke sana bersama istri pada tahun 2010. Sayang waktu itu hanya mampir sebentar dan tidak sempat berfoto-foto, namun saya masih menyimpan karcis masuknya (lihat gambar).

Di pantai ini dapat dijumpai beberapa restoran ikan dan wahana wisata air termasuk arena ATRAKSI LUMBA-LUMBA yang menurut berita khusus ditangkar oleh Pemkab bekerja sama dengan Taman Safari Cisarua Bogor. Lihat ulasan Detik Travel

Di lokasi sering diselenggarakan beberapa kegiatan dan pada saat saya berkunjung waktu itu sedang dilaksanakan lomba motocross.

Semoga arena wisata ini terus berkembang dan diimbangi dengan tetap terjaganya lingkungan hayati disekitarnya. Insya Allah saya akan berkunjung ke sana lagi untuk foto-foto dan akan saya poskan di blog ini.

Foto ilustrasi diatas meminjam dari seorang pengguna Facebook (Fatchurrozak Fazani, mohon izin mas)

Posted from Bogor
Sun, Oct 30, 2011

Batang Pesisir Bagian 1: Pantai Batang

Pantai Batang atau sering disebut 'Nge-boom' oleh masyarakat setempat adalah salah satu pantai yang menjadi tujuan jalan-jalan masyarakat Batang dan sekitarnya.

Pantai ini dapat dicapai dari Alun-alun Batang melalui Jl. Yos Sudarso ke arah utara dengan jarak sekitar 3 km melewati area pemukiman dan sawah. Pada waktu kecil, saya sering melalui rute ini dengan sepeda mini pada pagi hari setelah subuh dan kembali ke rumah sebelum jam 8 pagi.

Pantai ini berbentuk landai dengan ombak sedang dan dari sana kita dapat menyaksikan matahari terbit atau tenggelam. Di lokasi sekitar pantai terdapat dermaga kapal nelayan dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang biasanya ramai di pagi hari saat para nelayan menjual hasil tangkapannya.

Di pantai ini terdapat pula daratan memanjang buatan yang menjorok ke laut yang di ujungnya terdapat menara kecil semacam mercusuar. Seingat saya dahulu kita dapat menjumpai beberapa orang yang memancing di sana.

Sayang para pengunjung pantai (atau mungkin penduduk sekitar) tidak terlalu merawat pantai ini karena beberapa kali saya ke sana beberapa tahun lalu banyak saya temui banyak sampah plastik. Mungkin perlu ada yang mulai berkampanye untuk menjaga kebersihannya.

Dengan dibukanya lokasi wisata Pantai Sigandu tidak jauh di sebelah timurnya yang relatif lebih bersih dan lebih menarik, Pantai Batang jadi agak kehilangan pamor. Mudah-mudahan Pemkab cukup memberi perhatian agar potensi wisatanya dapat dimanfaatkan secara optimal.

Sent from Bogor
Sat, Oct 29, 2011

Jumat, 28 Oktober 2011

Kabupaten Batang di Twitter


Beberapa akun tentang informasi Kabupaten Batang yang bisa diikuti di situs jejaring sosial Twitter:


@infobatang
@infobandar

Apakah ada lagi yang lain?

Ikuti juga akun blog ini di twitter: @BatangOrg

Posted from Bogor Fri, Oct 28, 2011

Sent from my BlackBerry® smartphone

Kamis, 27 Oktober 2011

Penangkaran Lumba-lumba di Batang

Beberapa waktu lalu salah seorang kerabat saya bercerita tentang peristiwa yang dia lihat di Kali Sambong dimana ada orang yang sedang mencoba menangkap lumba-lumba.

Secara iseng saya search di Google dan menemukan artikel di harian the Jakarta Post tentang rencana Dinas Pariwisata Pemkab untuk menangkar lumba-lumba di Kabupaten Batang yang bertempat di Pantai Sigandu sebagai berikut:


Inti dari berita yang bersumber dari Antara tersebut adalah bahwa: Pemkab Batang bekerja sama dengan Taman Safari Cisarua Bogor akan membangun pusat penangkaran lumba-lumba dan kolam renang di Pantai Sigandu. Rencana tersebut dikemukakan oleh Kepala Dinas Pariwisata Bambang Ibnu Riyanto dan dijadwalkan akan selesai dalam waktu empat bulan. Lumba-lumba yang akan ditangkar akan diambil dari perairan Batang. Rencana penangkaran itu diharapkan dapat menarik lebih banyak wisatawan untuk berkunjung ke Batang.


Bagaimana kelanjutan dari rencana ini? Saya harus cek nanti kalau pulang kampung.

Posted from Jakarta


Minggu, 23 Oktober 2011

Batang Banget Festival


Informasi mengenai Batang Banget Festival (B2FEST) yang bersumber dari akun Info Batang Net di Facebook http://www.facebook.com/infobatang

Posted from Riyadh, Saudi Arabia

Sabtu, 22 Oktober 2011

Batang Kota: Gang-gang kecil





Selain jalan-jalan lebar beraspal, di kota Batang terdapat banyak gang-gang kecil yang hanya cukup dilewati satu lajur mobil. Gang-gang ini menjadi akses bagi warga yang tinggal di permukiman padat dan biasanya juga merupakan RT tersendiri.

Gang-gang itu dinamai dengan nama-nama bunga atau ikan atau nama lain tergantung letak kelurahannya. Sebagai contoh di Jl.Ahmad Yani Kauman dijumpai Gg.Mawar, Gg. Kemuning, Gg. Sedapmalam dsb. Contoh gang-gang lain dapat ditemui di link berikut http://www.nusaland.com/travel/jawa_tengah/24712/kab-batang.php.

Gang-gang tersebut memiliki ciri khas bergapura yang terbuat dari semen, dengan tulisan 17-8-45 di sisi kiri dan 17-8-xx di sisi kanan tergantung tahunnya. Tiap gang dihiasi dengan ornamen yang beraneka ragam. Kini sebagian gang tersebut menggunakan gapura dari besi yang dilas.

Salah satu gapura yang mudah diingat dan kelihatan awet tidak berubah sejak saya kecil adalah gapura bermotif ikan yang bisa ditemui di sebuah kampung nelayan di Jl. RE Martadinata (lihat gambar).

Insya Allah jika saya nanti ke Batang lagi saya akan potret gapura-gapura gang yang unik.

Diposkan dari kota Dammam, Provinsi Timur, Arab Saudi.
Sat, Oct 22, 2011
Sent from my BlackBerry® smartphone via Saudi Telecom

Tambahan 25/8/2016
Sebuah postingan menarik di group Facebook Suara Warga Batang tanggal 24 Agustus2016 oleh user Fahrudin tentang lomba gapura yang dijuarai oleh Gang Akasia, Watesalit.




Jumat, 21 Oktober 2011

Jalur Pantura Kabupaten Batang








Lihat: Subah Tempo Doeloe


Kabupaten Batang dilewati oleh jalur utama pantura yang memanjang dari batas kota dekat Terminal Pekalongan baru ke Kecamatan Gringsing dekat Weleri, Kendal menembus Alas Roban. Lama tempuhnya sekitar satu jam dengan jalan naik-turun dan berkelak-kelok.

Jalan ini merupakan bagian dari jalan Anyer-Panarukan yang dahulu dibangun oleh Gubernur Jenderal Deandels pada masa Pemerintah Hindia Belanda melalui program kerja paksa (rodi). Jalan ini sekarang telah mengalami banyak perbaikan dan pelebaran oleh Pemerintah RI.

Jalan di bagian kota Batang dinamai Jalan Jenderal Sudirman dan kadang-kadang masyarakat setempat menyebutnya sebagai 'Nggili Gedhe'. Di jalan ini terdapat banyak toko dan menjadi pusat kegiatan ekonomi.

Jalan setelah keluar kota Batang masuk menjadi wilayah Kecamatan Kandeman (baru), Kecamatan Tulis, Kecamatan Subah, Kecamatan Banyu Putih (baru) dan Kecamatan Gringsing. Di kedua sisi jalan terdapat banyak restoran persinggahan, beberapa pabrik tekstil dan sisa-sisa lahan hutan jati Alas Roban yang terkenal yang dikelola oleh Perhutani.

Di daerah antara Banyuputih dan Gringsing (daerah Plelen) terdapat jalur kelak-kelok dan naik turun ekstrim yang rawan kecelakaan . Dengan dibangunnya jalur pintas sekitar akhir tahun 1980-an, kendaraan kecil bisa menghindari jalur tersebut.



Testimoni pengguna jalur Pantura Batang

Sebagian masyarakat sekitar menggantungkan ekonominya pada lalu lalang kendaraan yang singgah dalam perjalananan Pekalongan-Semarang atau sebaliknya. Mereka membuka restoran, warung dan tempat persinggahan atau berjualan makanan secara asongan.

Dengan adanya rencana pembangunan jalur jalan tol Batang-Semarang, terdapat kemungkinan peran jalan ini akan berkurang di masa mendatang. Semoga hal itu tidak berarti berkurangnya juga kegiatan ekonomi masyarakat di sepanjang jalan pantura ini.

Diposkan dari Riyadh, Arab Saudi
Fri, Oct 21, 2011

Sent from my BlackBerry® smartphone from Saudi telecom


Kunjungi Foto-foto Subah di Pinterest.




Kamis, 20 Oktober 2011

Batang Tempo Doeloe Djilid 9: Kuliner Baheula

Waktu saya kecil dulu paling tidak ada dua tempat makan (atau membeli makanan untuk dibawa pulang) yang cukup terkenal saat itu yaitu gulai Haji Thoyib dan Bakmi Pak Lal.

Gulai Haji Thoyib berlokasi di sebelah utara Alun-alun Batang di jalan besar dekat lampu merah kantor telkom sekarang. Dulu keluarga saya kadang-kadang membeli gulainya dan menyebut penjualnya sebagai 'Labib'. Konon sekarang sudah tidak berjualan lagi. Seingat saya gulainya sangat enak.



Haji Thoyib - Google Street View April 2013

Bakmi Pak Lal berada di sebelah barat Jembatan Gendingan, sisi selatan jalan. Saya sendiri tidak pernah membeli bakmi di situ tapi kakak ipar saya sering. Pak Lal konon pendatang dari Tasikmalaya. Pernah suatu kali saya bertemu seseorang di Jawa Barat yang mengaku masih keponakan Pak Lal. Begitu saya bilang saya dari Batang, orang itu dengan semangat bercerita bahwa pamannya penjual bakmi terkenal di Batang. Entah dimana beliau sekarang, kalau tidak salah keponakannya itu sempat bilang kalau beliau sudah meninggal.

Mungkin ada juga tempat makan lain juga yang terkenal waktu itu namun tidak saya ketahui karena keterbatasan saya sebagai anak. Ada yang masih ingat?

Diposkan dari Riyadh, Arab Saudi
Thu, Oct 20, 2011

Sent from my BlackBerry® smartphone from Saudi Telecom

Selasa, 18 Oktober 2011

Kecamatan Blado, Batang

Foto-foto yang diambil di Kecamatan Blado tahun 2005.

Posted from Thaif, Saudi Arabia on Tue, Oct 18, 2011


Sent from my BlackBerry® smartphone from Saudi Telecom


Kunjungi Foto-foto Blado di Pinterest.




Senin, 17 Oktober 2011

Boso mBatang: Kosakata Nama Makanan

Berikut adalah sebutan masyarakat Batang untuk jenis makanan tertentu yang mungkin dikenal juga di daerah lain:

Es thung thung: es krim yang dijual dengan kereta dorong dengan penjual yang memukul gong kecil berbunyi 'tung-tung'. Sekarang mungkin sudah tergusur oleh Walls.

Janganan: sejenis pecel atau gado-gado yang bahannya (sayuran dan sambal kacang) dicampur langsung di cobek. Disajikan dengan daun pisang yang dipincuk.





Lothèk: rujak buah dengan sambal gula jawa pedas, di Solo dan Jogja disebut 'lotis'

Bandhos: kue pancong, kue berbahan tepung dan kelapa yang dimasak berjajar dalam sebuah cetakan besi.

Ontho-ontho: peyek kacang.





Gobèt: singkong yang diiris tipis, kemudian dikukus dan dicampur dengan kelapa parut.

Growol: tiwul, makanan berbasis tepung singkong kering yang dimakan dengan kelapa parut.

Klethuk: misro, disebut juga klenyem.

Rondho kemul: tape goreng tepung, di Solo-Jogja disebut 'rondho royal'.

Tahu sumpel: tahu isi.

Bongkrèk: sejenis ampas kedelai hasil pengolahan tahu, di Solo-Jogja disebut 'gembus'. Biasanya dikonsumsi dengan cara digoreng tepung atau dicampur sayur jaging muda.

Potrèn: jagung muda (
baby corn)

Wantah: air putih.

Awug-awug: sagu merah manis dicampur parutan kelapa, dibungkus daun pisang dan direbus. Lihat Artikel dan foto Awug-awug Sagu oleh teman SMA saya Maya Efendi (mohon izin ya mbak:))




Sintrèn: campuran jagung tepung yang digoreng.

Léngko: singkong parut yang dicampur gula jawa dan butiran kecil kelapa, dibungkus daun pisang dan direbus.

Utri: sejenis lengko yang didalamnya diberi potongan pisang.

Dempès: gorengan manis berbahan ubi jalar (ketela rambat,telo) yang berbentuk bulat atau lonjong seperti gambar di bawah ini. Konon berasal dari 'adem kempes'. Di Jogja-Solo disebut 'timus'.





Encèh: buah rambutan (jw standar 'acé')

Kolok: sebutan setempat untuk kolak.


Gerèh Pèthèk: ikan asin dari jenis ikan bawal.

Roti Es: biskuit wafer, biasanya identik dengan wafer dalam paket biskuit Khong Guan.

Gemblong: juadah atau uli ketan.


Diposkan dari Madinah Al-Munawwarah, Arab Saudi, Sun, Oct 16, 2011

Sent from my BlackBerry® smartphone via Al Jawwal Saudi Telecom

Minggu, 16 Oktober 2011

Hotel Sendang Sari Batang

Setahu saya hotel ini merupakan hotel tertua di Batang dan pernah bertahun-tahun bertahan sebagai hotel satu-satunya sehingga telah menyatu dengan kehidupan kota tercinta ini.

Letaknya di Jl.Raya Pantura (Jend.Sudirman) persis di depan sekolah SMP Negeri 1, tempat saya sekolah dulu di kawasan Kebonrojo.

Saya sendiri tidak pernah menginap di hotel itu, jadi tidak dapat menilai kualitas pelayanannya. Namun saya amati dari penampakan luarnya, kelihatannya hotel cukup mengikuti perubahan zaman.

Beberapa teman saya yang sering mudik lewat jalur pantura ternyata cukup familiar dengan hotel ini karena merupakan salah satu alternatif persinggahan.

Informasi mengenai hotel ini dapat dilihat di situsnya http://www.sendangsarihotel.com

Foto di atas diambil tahun 2005.

--
Posted from Jeddah, KSA on Sun, Oct 16, 2011

Sent from my BlackBerry® smartphone via Al-Jawwal, Saudi Telecom

Sabtu, 15 Oktober 2011

Kecamatan Bandar, Batang







Kecamatan Bandar terletak sekitar 17 km dari kota Batang ke arah selatan. Zaman saya kecil dulu kota kecamatan ini pernah jadi idola tujuan wisata bagi mereka yang ingin berenang di area permandiannya.

Sejalan dengan makin mudahnya transportasi kota ini tampaknya makin berkembang. Info terakhir yang saya terima kecamatan Bandar bahkan telah mengalami pemekaran dengan dibentuknya kecamatan baru yaitu Pecalungan.

Tampak foto-foto tanda kota di depan SLTP 1 Bandar, gapura ke arah lokasi pemandian dan salah satu sudut kota. Foto-foto diambil tahun 2005. Insya Allah jika berkesempatan berkunjung ke sana lagi saya akan ambil foto-foto baru dan info-info terbaru.

Semoga pohon-pohon besar itu juga masih ada, biasanya meski pohon besar sangat bermanfaat untuk lingkungan hidup beberapa elemen masyarakat kurang menghargai sehingga muncul keinginan untuk menebangnya.

Diposkan dari Jeddah, Arab Saudi
Sat, Oct 15, 2011
Sent from my BlackBerry® smartphone via Al-Jawwal Saudi Telecom

Tambahan Link
Wisata: Bandar Ecopark
Pinterest Bandar


Kunjungi Foto-foto Bandar di Pinterest.




Kuliner Batang: Beberapa Makanan Khas




Makanan khas paling terkenal untuk daerah Batang (juga Pekalongan dan sekitarnya) tentu saja soto tauco (tauto) dan sego megono. Itu sudah tidak tidak terbantahkan lagi. Namun kadang orang melupakan bahwa makanan di bawah ini juga cukup khas untuk menjadi bagian dari identitas daerah ini, yaitu:

Lonthong lemprak: lontong opor ayam kampung yang dijual di sekitar alun-alun dengan penjual 'nglemprak' (duduk di tanah). Penjual membawa dagangan dari rumahnya ke tempat jualan dengan cara dipikul.

Sego pliwat: nasi berkatan dengan campuran urap kol dan daging ayam khas pesisir yang dibungkus dengan daun jati, biasanya untuk acara kenduren (ambeng-ambeng) di sekitar kampung nelayan. Aroma dan warna dauh jatinya menmbah kesedapan makanan.

Lodheh cecek: sayur lodeh nangka muda yang dicampur nasi sebagai pengganti atau pelengkap megono.

Panggang cucut/iwak pe: irisan daging ikan pari yang dipenyet bersama sambal santan. Biasanya dimakan bersama sayur bening.

Sotong ireng: masakan cumi yang mengikutsertakan tintanya sehingga warnanya hitam. Digoreng tumis dengan bumbu tertentu yang diberi santan.

Kroco: siput/keong sungai yang direbus dengan bumbu dan sedikit kelapa urap. Dimakan dengan alat lidi. Yang mengkonsumsi harus berhati-hati untuk tidak memakan kotorannya. Di daerah Bogor disebut "tutut".

Serabi Kali Beluk (Warungasem): lihat gambar (tautan luar)

Krupuk usek: sejenis krupuk yang digoreng dengan pasir, tanpa minyak.

Mie Eblek/Mie Kenyol: lihat keterangan DI SINI (KLIK) (Tambahan 19 Nov 2012)

Cimpring, opak dan genthe: tiga jenis keripik berbasis singkong. Biasanya berbentuk segi empat pipih dengan rasa gurih.

Klepon kinco: campuran klepon, gemblong (juadah), ketan, santan dan kinco (juruh, sirup gula jawa) yang dibungkus daun pisang.

Corobikang: sejenis serabi warna-warni yang bagian atasnya mekar dan bagian bawahnya agak kehitangan gosong. Beda dengan serabi yang sering dimakan bersama santan, cemilan ini dikonsumsi tanpa santan.

Es santen: sejenis es yang dibuat campuran sari kelapa yang dibakar dan diberi gula. Sudah lama saya tidak ketemu lagi jenis minuman ini, tapi dulu dijual di depan TK Aisyiyah Kauman oleh seseorang bernama Lik Saeri.

Cao: sejenis es campur yang dibuat dari bahan-bahan cingcao hitam, kolang-kaling, kelapa muda (degan), dengan sirup warna merah, kadang diberi sedikit santan. Komposisinya bervariasi kadang juga memakai nangka atau tape singkong.

Gethuk iris: getuk dari bahan singkong yang ditumbuk hingga halus dan kenyal. Penjual memakai pisau untuk mengiris getuk yang akan disajikan, menempatkannya di daun pisang dan menambahkan parutan kelapa bakar, kadang-kadang penjual juga menambahkan kinco.

Gethuk mawur: getuk berbentuk singkong yang ditumbuk hingga berbentuk butir kecil-kecil, diurap dengan campuran kelapa biasa dan kelapa bakar yang diparut.

Pelas: kelapa setengah muda yang diparut kemudian dibungkus daun pisang dan dipepes. Rasa campuran pelas ini bisa berupa ikan, tahu atau tempe.

Petis: kedelai goreng dengan gula jawa liat dan lengket berbumbu sere/kamijoro.

Menir: sejenis arem-arem gurih tanpa isi dengan bahan beras ditumbuh dengan tekstur kasar, tidak sehalus tepung beras.

Beberapa makanan di atas bisa jadi tidak terlalu khas karena masih mungkin ditemui di daerah lain. Namun makanan itulah yang dahulu sering saya jumpai ketika saya tinggal di Batang.


Selain itu untuk mempermudah pencarian, mungkin Anda bisa coba untuk menggunakan nama-nama lokal berikut untuk mencarai makanan yang anda cari: KLIK

Diposkan dari Jeddah, Saudi Arabia
Sat, Oct 15, 2011


Sent from my BlackBerry® smartphone via Al-Jawwal Saudi Telecom

Kamis, 13 Oktober 2011

Batang.org langsung dari Arab Saudi

Adakah orang Batang yang bisa saya temui di Makkah selama musim haji ini? Para jamah haji Kabupaten Batang pada di mana ya?

Pada tahun 2006 dan 2008 saya sempat menemui para jamaah haji Kabupaten Batang yang berangkat melalui KBIH Ash-Shofa pimpinan Haji Shobirin di Arafah dan di maktab-maktab mereka karena kebetulan saya ada kesempatan waktu itu di sela-sela tugas. Tahun ini (2011) Alhamdulillah saya berkesempatan ke Makkah untuk tugas lagi, namun tidak memiliki banyak waktu untuk menengok, katanya ada 44 orang jamaah mereka.

Batang.org, live from Jeddah, Arab Saudi.

Sent from my BlackBerry® smartphone via Al-Jawwal Saudi Telecom

Senin, 10 Oktober 2011

Tol Semarang-Batang

Berita di Harian Seputar Indonesia: "Tol Semarang-Batang Dipercepat
Monday, 10 October 2011

JAKARTA– Pemerintah pusat akan mempercepat proyek tol Semarang- Batang yang kini jalan di tempat. Untuk mengatasi kekisruhan investor, pemerintah segera menerbitkan surat keputusan (SK). ...."

Berita penuh bisa diakses di
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/434512/

Doa:
Semoga keberadaan tol ini dapat menambah kesejahteraan masyarakat Batang. Aamiin.

Perkembangan Berita:
Upaya pembebasan tanah
Desa-desa yang bakal dilewati Tol
Rencana realisasi oleh Pemprov Jateng

Sent from my BlackBerry® smartphone

Jalur Kereta Kabupaten Batang

Dua malam yang lalu saya melakukan perjalanan dari Cirebon menuju Semarang dengan kereta Bangunkarta Ekspres. Maksud hati ingin mampir ke Batang buat motret-motret untuk mengisi blog, namun sayang waktu tidak memungkinkan karena saya harus sudah siap untuk menuju Ungaran pagi harinya.

Sebagai kota yang terletak di jalur pantura Kabupaten Batang dilewati oleh rel kereta api Jakarta-Surabaya yang memotong Jl. Yos Sudarso dan Jl. RE Martadinata. Jalur kereta ini menurut sejarah sudah ada sejak zaman Belanda. Di antara kedua jalan itu terdapat Stasiun KA Batang.

Waktu saya kecil saya kadang-kadang main di jalur rel sekitar Kasepuhan dan duduk-duduk di relnya yang, mohon maaf, agak berbau pesing. Dahulu saya heran mengapa rel kereta berbau pesing, tapi kemudian saya jadi mengerti setelah sering naik kereta api dan menyaksikan klosetnya yang bolong melompong tanpa penampung apa pun. Segala benda yang terbuang lewat lubang itu akan langsung mengenai wajah bumi pertiwi di sekitar rel.

Waktu masih murid SD, saya pernah melihat beberapa teman saya yang membuat pisau mainan kecil dengan cara menidurkan paku di rel dan menunggu roda kereta memipihkan paku itu. Sungguh mainan berbahaya karena paku yang terlempar tanpa arah bisa mengenai mereka, namun karena anak-anak, bahaya itu tidak dimengerti atau dianggap remeh.

Saya dulu juga sering diberi guyonan informasi palsu yang sempat saya percayai bahwa jika kita menaruh sabun mandi di atas rel, maka kereta akan ambruk karena terpeleset. Entah mengapa dulu saya percaya saja..hehe

Sayang sekali, meskipun Batang dilewati jalur rel, kereta-kereta ekspres antar kota besar tidak berhenti di Stasiun Batang karena sudah berhenti di Pekalongan. Jadi masyarakat Batang terpaksa harus naik angkot alias numpak kol ke Stasiun Pekalongan yang jaraknya kurang lebih 10km.

Posted from Semarang, Mon, Oct 10, 2011

Jumat, 07 Oktober 2011

Batang Tempo Doeloe Djilid 8: RSPD Batang

Generasi tahun 1990-an ke depan mungkin kurang mengenal yang namanya "Radio Siaran Pemerintah Daerah Kabupaten Batang" alias RSPD Batang yang dulu pernah berjaya di udara ketika frekuensi radio AM populer tahun 1980-an. Studio radio ini berlokasi di kompleks kantor kabupaten sebelah timur dekat kawasan Kertonegaran dan siarannya dapat ditangkap di kota Batang dan sekitarnya.

Acaranya yang saya ingat antara lain adalah pemutaran lagu Pilihan Pendengar tiap sore yang formulirnya bisa dibeli di studio. Para pendengar bisa saling kirim ucapan dan salam dengan nama-nama samaran. Selain itu radio ini juga memutar beberapa sandiwara radio termasuk serial favorit Saur Sepuh yang mengudara tiap pukul 13.30.

Radio plat merah ini juga menyiarkan iklan dan pengumuman lokal termasuk iklan film-film Bioskop Srikandi dan berita duka meninggalnya warga Batang yang diiringi musik himne trumpet yang cukup menyayat hati (The Silence Trumpet Solo).

Sebagai satu-satunya radio di daerah Batang, RSPD hanya bersaing dengan radio-radio AM lain yang bersiaran dari daerah Pekalongan. Radio dari Pekalongan yang juga dapat didengarkan siarannya dengan jelas waktu itu berdasarkan urutan frekuensinya adalah Radio Damashinta, Radio Santo Bernardus, Radio Chandra Kusuma (Wonopringgo), Radio PTDI Pekalongan, Radio Citra Syuhada (Pekajangan), RSPD Kab.Pekalongan (Wiradesa) dan RSPD Kodya Pekalongan.

Masyarakat Batang secara sayup-sayup juga bisa menangkap suara radio-radio jauh dari kota Jepara, Semarang dan Cirebon. Radio-radio dengan kualitas agak kemresek karena jarak ini tetap memiliki pendengar tersendiri karena memutar episode sandiwara 'Saur Sepuh' lebih baru dari RSPD Batang.

Studio RSPD Batang kemudian pindah ke lokasi Gedung Pertemuan Umum (GPU) Kebonrojo dan kemudian berganti nama menjadi Radio Suara Abirawa. Setelah itu era AM mulai pudar sejalan dengan makin banyaknya radio-radio baru di jalur FM.

RSPD Batang kini juga kini sudah ikut-ikutan ganti ke frekuensi FM dan studionya telah pindah ke sekitar Kalisalak. Data yang saya peroleh mengenai radio ini adalah sebagai berikut:

Frekuensi: 106.2 MHz
Nama: RSPD Batang (Radio Abirawa Top FM)
Alamat: Jalan Dr Wahidin 54 Batang, Jawa Tengah
Tel: +62 285 391324

Radio ini pernah memiliki blog yang kelihatannya sudah tidak aktif lagi sejak 2010 http://abirawafm.blogspot.com/

¨[Tambahan info 22 Februari 2013]
Abirawa FM sekarang mengudara di Frekuensi 99,5 FM
dan siaran streamingnya bisa didengarkan pada situs http://www.abirawafm.com

Info mengenai radio-radio lain di Batang termuat dalam link ini http://www.asiawaves.net/indonesia/batang-radio.htm


Sent from my BlackBerry® smartphone

Kamis, 06 Oktober 2011

Batang Kota: Sungai-sungai kecil









Melanjutkan pembicaraan mengenai sungai, selain Kali Sambong dan Kramat, kota Batang sebenarnya juga dialiri oleh sungai-sungai berukuran sedang dan kecil yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Sungai berukuran sedang mengalir antara lain di daerah dekat sungai besar Kali Sambong (samping jalan ke arah Wirosari/Kecepak) dan sungai di Kalipucang yang melewati daerah dekat gedung Pengadilan Negeri Batang.

Sedangkan sungai kecil antara lain didapati di samping Jalan Ahmad Yani, Jalan Yos Sudarso, dan wilayah Proyonanggan (melewati Jembatan Gendingan). Di daerah Kramat terdapat pula sungai kecil yang mengalir cukup deras yaitu saluran Kadilangu (tampak di gambar).

Sungai Gendingan April 2013 (Google Street Vieww)


Sungai-sungai sedang dan kecil ini sebenarnya turut berfungsi sebagai sarana pencegah banjir di pemukiman penduduk. Sayangnya sungai-sungai ini akhirnya juga akhirnya berfungsi sebagai saluran akhir pembuangan limbah rumah tangga termasuk deterjen dan kotoran manusia sehingga makin lama makin tercemari.

Dahulu di sungai-sungai ini didapati beberapa jenis ikan (iwak kali) antara lain:

-ikan betuk ('iwak bethik'), sejenis mujair dengan tekstur kulit lebih kasar;
-ikan sepat;
-ikan wader (sejenis tawes kecil);
-ikan lele;
-ikan keting (mirip lele, berkumis namun lebih kecil);
-ikan kecil berekor warna-warni (anak-anak menyebutnya iwak gondhok);
-ikan kecil panjang di dasar sungai (anak-anak menyebutnya 'iwak sili');
-ikan sunduk (sejenis ikan kecil di permukaan air dengan mulut runcing);
-ikan kecil dengan dua titik di mulut agak berpendar seperti lampu
-ikan gabus ('iwak kutuk')



-ketam (yuyu)
-udang sungai bercapit, dan
-beberapa jenis ular kecil.

Dahulu kita dapat memancing di sungai-sungai ini atau menangkap ikan dengan jala, 'serok' atau juga besek bekas bungkus nasi berkat. Dengan makin kotornya sungai-sungai ini, ikan dan binatang air lainnya banyak yang sudah menghilang karena tidak sanggup beradaptasi dengan kerusakan habitatnya.

Mungkin suatu hari nanti, entah kapan, pemerintah dan masyarakat akan memiliki saluran khusus limbah sehingga sungai-sungai kita bisa kembali bersih kembali dan terjaga.

Saya ingat ketika saya berkunjung ke Jepang tahun 1998, saya melihat pemerintah kota sengaja menaruh ikan-ikan besar dengan warna mencolok di sungai agar jika tercemari segera diketahui. Akhir September 2011 lalu saya juga sempat menyaksikan di kota Seoul, Korea Selatan sebuah sungai yang teramat jernih yang mengalir di bawah jalan layang kota. Kata teman saya yang pernah tinggal lama di Seoul, sungai itu dulunya kotor tapi berhasil direhabilitasi. Sungguh menakjubkan! Kalau mau seperti itu, kita belum terlambat.

Kapankah kita akan semaju itu di masa depan? Mari kita didik anak-anak kita agar berwawasan lingkungan sehingga kota yang kita cintai makin nyaman. Go green Batang!

Gambar tambahan 13 Feb 2012: Ikan gabus (iwak kutuk) yang dulu bisa diperoleh di sungai di daerah Kauman, kini sudah sulit didapatkan. Foto hasil motret di sebuah supermarket di Bogor. Pada saat saya kecil, menjadi hal yang membanggakan jika kita berhasil menangkap atau memancing ikan jenis ini.

Beberapa jenis ikan yang disebut di atas juga bisa dilihat dari hasil search Google Image di bawah ini:



Sent from my BlackBerry® smartphone

 Iwak Bethik

 Iwak Keting

 Iwak Sepat


Iwak Wader

Rabu, 05 Oktober 2011

Batang Kota: THR Kramat






Hampir semua orang Batang yang tinggal di Kecamatan Batang mengenal Taman Hiburan Rakyat Kramat (THR Kramat) yang lokasinya dekat dengan Kali Kramat tidak jauh dari kampus Dracik.

Waktu saya kecil, ibu saya sering melarang saya mendekati daerah ini karena khawatir saya bermain-main di sungai besar Kali Kramat atau Bendungan Kedungdowo di dekatnya. Saat itu disinyalir memang terjadi beberapa kasus anak yang tenggelam di sungai itu.

Di tempat ini dahulu sering diselenggarakan acara hiburan musik dangdut tiap hari Jumat Kliwon pada pagi hingga siang hari. Menurut informasi yang saya terima acara hiburan itu sudah tidak diselenggarakan lagi, entah mengapa, mungkin ada pihak yang berkeberatan dengan hal itu mengingat nuansa hari Jumat seharusnya lebih bernafas relijius bukan hura-hura.

Tempat ini memiliki kolam buatan yang pada saat terakhir saya lihat tahun 2005 dilengkapi dengan perahu bebek yang digenjot kaki.

Konon sekarang tidak banyak aktivitas yang dilakukan di THR ini. Mungkin nanti perlu saya cek lagi untuk memastikannya.

Tambahan tanggal 29 Desember 2011
Kabar di twitter ElShinta tentang tenggelamnya anak sekolah di Bandungan Kedungdowo

Tambahan 3 Januari 2011
Di forum Mbangung Batang Yuk sudah ada yang memulai mempertanyakan masa depan tempat ini.

Sent from my BlackBerry® smartphone

Kata Kunci

alas roban (5) alun-alun (6) bahasa (3) bahurekso (1) bandar (2) batang (161) batang.org (6) batik (5) bawang (1) bioskop (1) blado (2) blog (2) buka puasa (1) bupati (2) central java (1) darul ulum (1) dayung (1) dialek (3) dracik (1) facebook (4) festival (1) forum (2) foto (8) hotel (1) info (1) jalan (1) java (1) jawa (3) kabupaten (101) kadilangu (1) kalisalak (1) kampung (1) kampus (1) kantor (2) kauman (1) kecamatan (5) kedungdowo (1) kegiatan (1) kehidupan (1) kenangan (2) kereta api (3) khas (2) kliwonan (7) komunitas (2) kota (18) kramat (2) ktp (1) kuliner (9) lingkungan (2) lokasi (1) lomba (2) lumba-lumba (3) madrasah (1) maghribi (1) makam (2) makanan (3) map (2) masjid (1) mbangun (2) mbatang (1) megono (3) melati (1) metal (2) mustika (1) nelayan (3) pagilaran (3) pahlawan (1) pantai (10) pantura (4) pasar (2) pawai (2) pekalongan (7) pemandian (1) perkebunan (1) pesanggrahan (1) peta (2) petilasan (1) radio (2) ramadhan (2) rel (1) resmi (1) rspd (2) rumah (1) sambong (2) search (1) sego (2) sejarah (5) sekolah arab (1) semarang (2) sendang sari (1) senggol (1) sigandu (5) situs (4) srikandi (1) sungai (2) taman (1) teh (1) terminal pekalongan (1) tersono (1) thr (1) tol (2) tulis (2) twitter (3) ujungnegoro (6) website (4) wikipedia (1) wilayah (2) wisata (10) wonobodro (1) wonotunggal (2)